Header Ads

Terlalu Kuat, Personal Brand Sandiaga untuk Dilawan


Identitas yang melekat pada diri seseorang tidak bisa digulirkan dalam waktu sesaat, tapi butuh proses dan konsistensi orang tersebut.
=========================
Jauh sebelum Sandiaga Uno terjun dalam dunia politik, ia telah membangun personal brand yang konsisten, yaitu sebagai pengusaha muda yang tekun memegang ajaran Agama. Dan personal brand ini terlalu kuat untuk dilawan oleh siapapun termasuk Joko Widodo.

Kuatnya personal brand Sandiaga tidak terjadi dalam waktu sekejap dengan bim salabim, tetapi ia melakukannya dengan konsisten sampai sekarang. Kalau Anda perhatikan konten kampanye Sandiaga sejak awal sampai sekarang bahkan sejak kampanye pemilihan Gubernur DKI jakarta, Sandiaga tetap konsisten untuk memberikan pesan dengan konten ekonomi.

Komunikasi pemasaran yang dilakukan Sandiaga pun konsisten, baik melalui public relation, event maupun advetising dan media planning. Dalam pubic relation misalnya, dimanapun dan acara apapun Sandiaga selalu bicara masalah ekonomi dan bisnis di depan media.

Konsistensi konten kampanye ini semakin memperkuat personal brand Sandiaga Uno sebagai seorang pengusaha muda yang sukses dengan kekayaan triliunan rupiah. Personal brand Sandiaga pun diperkuat lagi dengan ia memberikan dana kampanye ratusan miliar rupiah.

Aktivasi brand yang dilakukan Sandiaga tersebut sejauh ini masih dalam rel sehingga personal brandnya semakin kuat. Dan untuk saat ini sulit melawan personal brand Sandiaga. Wajar kalau kemudian  Jokowi mencoba mengimbangi personal brand Sandiaga dengan mengajak Erick Tohir.

Tapi Sandiaga bukan sedang berhadapan dengan personal brand Erick Tohir, melainkan personal brand Jokowi dan Ma'ruf Amin. Jadi menurut hemat saya, keberadaan Erick tidak akan bisa menggeser personal brand Sandiaga lebih jauh.

Itu saja baru kita lihat personal brand dari sisi demografisnya, belum lagi dari psikografisnya, dimana Sandiaga memiliki personal brand sebagai pengusaha muda yang taat beragama. Ketaatan Sandi dalam beragama bukan basa basi, tapi memang itu menjadi kesadaran personalnya selama ini.

Shalat Dhuha yang tak pernah ditinggalkan, tetap senyum dan merangkul meski dicaci dan bahkan pernah ditolak datang ke sebuah pasar. Dalam konteks psikologis pemilih Indonesia, jelas ini akan memberikan efek positif terhadap simpatiknya publik terhadap Sandiaga.

Kenapa saya bilang terlalu kuat melawan personal brand Sandiaga Uno? Sebab personal brand yang melekat pada Sandiaga diuntungkan oleh momentum dimana kesadaran Muslim Indonesia tumbuh dengan luar biasa.

Mereka semakin kuat menggunakan alasan Agama menjadi salah satu referensi pilihan politiknya, terutama mereka dikalangan kelas menengah Muslim. Dan apa yang dialami Sandiaga pernah dinikmati Joko Widodo saat Pilpres 2014 lalu.

Personal brand sebagai sosok sederhana ketika itu begitu kuat karena memang psikografis masyarakat ketika itu menginginkan sosok seperti itu. Namun ada yang lupa bahwa setiap brand, apapun itu wujudnya akan mengalami product life cycle (siklus sebuah produk).

Dalam teori komunikasi pemasaran, siklus produk selalu melewati beberapa tahapan yaitu introduction (pengenalan), growth (pertumbuhan), mature (kemapanan) dan decline (kejenuhan). Yang membedakan antara brand satu dengan lainya adalah jedah dari masa mature ke decline.

Jika tidak bisa merawat brand maka akan cepat pada posisi decline, dimana publik atau customer merasa jenuh dan akan mengalihkan ke produk lain. Dan ini terjadi pula pada brand personal seseorang. Jadi bukan hanya produk komersial yang akan menemui decline, melainkan personal brand seseorang pun akan bisa ada pada titik decline.

Tantangan Sandiaga ke depan jika ia terpilih adalah menjaga dan merawat personal brand yang ia miliki sekarang. Maintenance personal brand pada hakikatnya sama dengan produk komersial. Pertama harus konsisten dengan personal brand dengan modifikasi tertentu sesuai dengan perubahan psikologis masyarakat.

Salah satu perawatan personal brand adalah melakukan apa yang selama ini difikirkan dan dijanjikan kepada publik. Jika Sandi menjanjikan atau memberikan value akan melakukan perbaikan ekonomi maka hal itu harus dilakukan ketika dia terpilih nanti.

Jika tidak dilakukan maka Sandiaga akan cepat berada pada titik decline atau kejenuhan. Dan ini sangat merugikan Sandiaga sendiri karena pemilih loyalnya pasti akan mencari brand personal yang lain dan dianggap sesuai dengan mereka.

Sandiaga sekarang ini berada di posisi mature atau kemapanan sehingga langkah selanjutnya ia harus melakukan strategi supaya tidak sampai pada posisi decline. Sebab sekali lagi, jedah dari posisi mature ke decline itu bisa cepat dan bisa juga lama, tergantung bagaimana maintenancenya.

Jangan lupa juga, ada pihak lain yang justru menginginkan Sandi jauh dari personal brandnya sehingga mengaburkan identitas personalitynya. Hal ini biasa dalam kompetisi, jangan politik dalam produk komersialpun sering terjadi.

Oleh karena personal brand adalah sebuah proses maka aktivitasnya berjalan tanpa henti, termasuk saat ia terpilih menjadi Wakil Presiden RI. Proses ini yang sering orang lupakan sehingga ketika brand sudah berada di posisi mature (kemapanan) dianggapnya sudah selesai.

Hal ini mengakibatkan jedah dari mature ke declinenya terlalu cepat. Sekali lagi ingin saya sampaikan bahwa siklus sebuah produk terjadi pada brand apapun, baik produk komersial maupun personality seseorang. Jadi ketika sudah memiliki brand kuat maka rawatlah dengan tim yang mengerti perihal branding.

Wallahu'alam
Penulis : Karnoto
*Mantan Jurnalis Jawa Pos Group (Radar Banten)
*Mantan Jurnalis Warta Ekonomi, Jakarta
*Studi Ilmu Marketing Communication Advertising di Univ.Mercu Buana, Jakarta
*Konsultan Brand di Maharti Brand
*Founder Maharti Networking

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.